Klasifikasi Wilayah

Klasifikasi Wilayah

Klasifikasi Wilayah

Wilayah dapat diklasifikasikan menjadi wilayah formal, wilayah fungsional, dan wilayah perencanaan. Wilayah formal (formal region) merupakan wilayah yang memiliki beberapa kesamaan dalam beberapa kriteria tertentu. Wilayah formal sering disebut dengan wilayah homogen (homogenous region). Konsep wilayah homogen lebih menekankan pada aspek homogenitas dalam kelompok dan berdasarkan perbedaan antarkelompok tanpa memperhatikan bentuk hubungan fungsional antara komponen-komponen di dalamnya atau interaksi antarwilayah.

Faktor penyebab homogenitas wilayah terdiri atas penyebab alamiah dan penyebabartificial. Penyebab alamiah meliputi kemampuan lahan, iklim, dan berbagai faktor alam lainnya. Sementara itu, penyebab artificial merupakan faktor sosial budaya, seperti wilayah yang homogen karena kemiskinan, suku bangsa, dan budaya. Awalnya, kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi homogenitas adalah kesamaan faktor fisik, misalnya topografi, iklim, dan vegetasi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, klasifikasi wilayah tidak hanya berdasarkan faktor fisik saja, tetapi juga berdasarkan keseragaman faktor sosial ekonomi, seperti industri dan pertanian.

Wilayah fungsional merupakan wilayah yang menunjukkan suatu kekompakan fungsional serta saling ketergantungan dalam kriteria tertentu. Wilayah fungsional sering disebut dengan wilayah nodal (nodal region). Wilayah nodal terdiri atas unit-unit yang heterogen, meliputi kota besar dan wilayah di sekitarnya (hinterland), yaitu kota-kota kecil dan desa-desa. Semua unit wilayah saling bergantung satu sama lain dan memiliki hubungan erat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Konsep wilayah fungsional merupakan konsep yang sederhana karena memandang suatu wilayah terdiri atas dua bagian. Dalam konsep ini suatu wilayah diumpamakan sebagai sel hidup yang terdiri atas inti dan plasma. Inti adalah pusat pelayanan atau pusat permukiman, sedangkan plasma adalah daerah pendukung yang memiliki sifat dan hubungan fungsional tertentu.

Menurut Rustiadi (2009), pusat wilayah berfungsi sebagai pasar bagi komoditas pertanian dan industri, konsentrasi penduduk, pusat pelayanan terhadap daerah hinterland, dan lokasi pemusatan industri manufaktur. Sementara itu, hinterland berfungsi sebagai daerah pemasaran barang dan jasa, pemasok bahan mentah atau bahan baku, pemasok tenaga kerja melalui proses commuting (melaju), dan penjaga keseimbangan ekologis. Terdapat interdependensi antara pusat wilayah dan hinterland. Pertumbuhan suatu pusat wilayah harus didukung oleh hinterland yang baik. Contoh wilayah fungsional yang biasa kita kenal adalah dalam konsep metropolitan. Kota Jakarta merupakan pusat wilayah yang didukung oleh Kota Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Depok sebagai hinterland. Wilayah metropolitan memiliki satu atau lebih pusat pengendali. Hal ini dicirikan oleh konsentrasi areal urban dengan kepadatan yang tertinggi dikelilingi wilayah dengan kepadatan rendah serta dihubungkan dengan sistem transportasi yang terintegrasi.

Wilayah perencanaan (planning region) adalah kombinasi antara wilayah formal dan wilayah fungsional. Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan wilayah perencanaan, antara lain wilayah perencanaan harus mampu menunjang industri dengan pengadaan tenaga kerja, harus luas untuk dapat memenuhi kriteria investasi, memiliki persamaan struktur ekonomi, dan memiliki sekurang-kurangnya satu kota sebagai titik pusat pertumbuhan. Wilayah perencanaan tidak selalu berwujud wilayah administratif, tetapi merupakan wilayah yang dibatasi berdasarkan sifat-sifat tertentu, baik sifat alamiah maupun non-alamiah sedemikian rupa serta perlu untuk direncanakan pengembangannya.


Baca Artikel Lainnya:

Pola Keruangan Wilayah Kota

Pola Keruangan Wilayah Kota

Pola Keruangan Wilayah Kota

Contoh pendekatan yang dapat digunakan untuk menyoroti dinamika kehidupan suatu kota adalah pendekatan morfologi kota dan pendekatan sistem kegiatan (Yunus, 2006). Mari, kita simak penjelasan berikut ini dengan saksama.

  1.    Pendekatan Morfologi Kota

Pendekatan ini mengacu pada bentuk suatu kota itu sendiri serta peluang perkembangan kota selanjutnya. Dalam perkembangan kota, pada arah tertentu sering kali terdapat hambatan. Hal ini akan menentukan pola keruangan kota yang terbentuk. Berikut ini klasifikasi bentuk-bentuk kota berdasarkan pendekatan morfologi kota.

  1.    Bentuk Kompak

Kota yang berbentuk kompak masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi beberapa bentuk yang lebih spesifik. Bentuk pertama adalah bentuk persegi. Bentuk ini menunjukkan adanya kesempatan perluasan kota ke segala arah, hambatan fisikal relatif tidak begitu berarti. Bentuk kedua adalah bentuk persegi panjang. Bentuk ini dimungkinkan karena adanya hambatan fisik di salah satu sisi yang berupa lereng terjal, gurun pasir, perairan, atau hutan. Bentuk ketiga adalah bentuk kipas. Suatu kota dapat berbentuk kipas karena perkembangannya hanya memungkinkan ke arah satu sisi saja. Bentuk keempat adalah bentuk lingkaran. Bentuk lingkaran merupakan bentuk yang paling ideal karena memungkinkan perkembangan secara seimbang ke segala arah. Bentuk kelima adalah bentuk pita. Bentuk pita hampir sama dengan bentuk persegi panjang, tetapi lebih panjang lagi. Hal ini terjadi karena pengaruh sarana transportasi dalam perkembangan kota. Bentuk keenam adalah bentuk gurita. Suatu kota dapat memiliki bentuk gurita karena pengaruh sarana transportasi ke banyak arah. Selanjutnya, bentuk kompak yang terakhir adalah bentuk tidak berpola. Bentuk yang tidak berpola terjadi pada daerah dengan kondisi geografis yang khusus. Misalnya, kota yang terletak di sebuah pulau kecil akan berpola menyerupai pulau tersebut.

  1.    Bentuk Tidak Kompak

Suatu kota yang berbentuk tidak kompak masih dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk yang lebih spesifik. Bentuk yang pertama adalah bentuk terpecah (gambar a). Kota awalnya memiliki bentuk kompak, tetapi dalam perkembangan selanjutnya ada bagian yang terpisah sehingga menjadi terpecah. Bentuk kedua adalah bentuk berantai (gambar b). Bentuk berantai sebenarnya juga termasuk dalam bentuk terpecah, tetapi mengikuti rute tertentu. Bentuk ketiga adalah bentuk terbelah (gambar c). Bentuk terbelah awalnya merupakan bentuk kompak, tetapi karena adanya perairan yang lebar membuat kota ini seakan-akan terbelah. Bentuk tidak kompak yang terakhir adalah bentuk stellar. Bentuk stellar biasanya terdapat pada kota besar yang dikelilingi oleh kota-kota satelit.

  1.    Pendekatan Sistem Kegiatan

Pendekatan sistem kegiatan menunjuk kepada perilaku perorangan, lembaga, atau perusahaan yang dapat menyebabkan terciptanya pola keruangan tertentu di dalam kota. Pendekatan sistem kegiatan ini dapat diklasifikasikan menjadi pendekatan wilayah sosial dan pendekatan konflik. Sederhananya, baik aktivitas sosial maupun adanya konflik, keduanya dapat menyebabkan terciptanya pola keruangan tertentu di suatu kota.


Baca Artikel Lainnya:

Perbedaan Setiap Gaya Renang

Perbedaan Setiap Gaya Renang

Perbedaan Setiap Gaya Renang

1. Membedakan Renang Gaya Bebas Dengan Gaya Punggung

Konveksipekanbaru.Co.Id – Ada banyak perbedaan yang terjadi antara renang gaya bebas dengan renang gaya punggung. Perbedaan antara lain :
a.       Posisi Badan
Seperti yang tercantum dimuka bahwa dalam renang gaya bebas, posisi badan harus horisontal, walaupun kaki masih cukup dalam di dalam air, sedangkan pada renang gaya pungung, posisi badan terlentang. Untuk mempertahankan posisi tersebut, adabeberapa hal yang perlu diperhatikan :
•           Dada, bahu, dan panggul berada di dalam air
•           Wajah berada sedikit diatas permukaan air sehingga dapat leluasauntuk mengambil nafas
•           Kedua kaki lebih rendah dari punggung dan secara bergantian menendang air.
b.      Gerakan Kaki
Gerakan kaki pada gaya punggung pada prinsipnya sama dengan gerakan kaki pada gaya bebas, hanya dalam posisi terbalik.
Bentuk-bentuk latihan gerakan kai :
•        Duduk di pinggir kolam kedua kaki diluruskan ke dalam air, kemudian lakukan gerakan kaki
•        Dengan posisi terlentang, kedua tangan pepegang pinggir kolam
•        Dengan posisi terlentang menggunakan pelampung
c.       Pernafasan
Pengambilan nafas gaya punggung sangat berbeda dengan gaya bebas. Pengambilan nafas gaya punggung lebih mudah karena mulut dan hidung selalau diatas permukaan air, tinggal mengatur waktunya saja.

2. Membedakan Renang Gaya Bebas Dengan Gaya Kupu-Kupu

Pola renang gaya bebas mempunyai persamaan dan perbedaan dengan pola gaya renang kupu-kupu. Persamaan terletak pada teknik meluncurnya. Sedangkan perbedaannya terletak pada gerakan lengan. Gerakan lengan :
•        Pada renang gaya bebas terdapat 3 macam gerakan lengan, yaitu gerakan menarik (pull), mendorong (push), dan istirahat (recovery).
•        Pada saat renang gaya kupu-kupu, terdapat dua macam gerakan renang, yaitu saat lengan diatas air dan dibawah air.

3. Membedakan Renang Gaya Bebas Dengan Gaya Dada

Yang membedakan gaya bebas dengan gaya dada adalah dari teknik gerakan kaki. Adapun cara untuk melakukan gerakan kaki pada renang gaya dada adalah :
•        Tarik kedua kaki mendekati pinggul, kedua paha agak terbuka, putar pergelangan kaki menghadap kaluar dan siap mendorong
•        Dorongkan kedua kaki secara bersamaan ke belakang agak menyamping hingga membentuk ½ lingkaran di bawah permukaan air.