Bukti Allah Sayang & Cinta Kepada Hamba-Nya

Bukti-Allah-Sayang-&-Cinta-Kepada-Hamba-Nya

Cinta Tuhan untuk hamba-Nya – Pada kesempatan kali ini Dutadakwah akan membahas tentang cinta Allah. Yang dalam pembahasan kali ini menjelaskan bagaimana Allah SWT mencintai hamba-Nya lebih lugas dan jelas dibandingkan dengan cinta seorang ibu. Lihat ulasan di bawah untuk informasi lebih lanjut.

Kasihan Tuhan untuk hambanya

 

Bukti-Allah-Sayang-&-Cinta-Kepada-Hamba-Nya

Berikut Ini Telah Kami Kumpulkan Yang Bersumber Dari Laman https://www.dutadakwah.co.id/ Yang Akhirnya Saya Tuliskan Disini.

Seorang pelayan harus mengenal rabbinya. Harus mengenal Allah sehingga dia mencintai Allah dan Allah mencintainya. Seseorang harus tahu dari salah satu sifat Allah bahwa Allah lebih mencintai hamba-Nya daripada seorang ibu mencintai anaknya. Kita tahu betul betapa tak tertandingi cinta seorang ibu untuk anaknya di dunia ini, tetapi kita benar-benar perlu tahu bahwa kasih Tuhan lebih dari itu.

Rahmat Allah lebih besar dari apapun yang mencintai

Perhatikan hadits berikut: Tentang Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu dia berkata:

قدم رسو ى ى ى ى ى يه, ع ر م قلنا: لا والله, وهي تقدر على أن لا تطرحه اا رسول الهم لبال هلم م لب الل عل

Yaitu: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki beberapa tawanan perang. Tiba-tiba salah satu dari mereka sedang mencari bayinya dalam kelompok tawanan tersebut, maka ia mengambilnya dan mengayunkannya serta memberinya makan.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hal ini, beliau bertanya kepada kami,’ Apakah menurut Anda wanita tersebut tega membuang bayinya ke dalam api? ‘Kami menjawab; “Demi Allah, sebenarnya dia tidak tega membuang anaknya ke dalam api selagi dia masih bisa menyelamatkannya dari api.”

Kemudian Nabi bersabda: “Sungguh, cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya lebih dari cinta wanita untuk anaknya.” (Hadits muslim nomor 4947)

Jika seorang ibu tidak tega membuang anaknya ke dalam api, maka Allah tidak tega lagi membuang hambanya ke neraka, tapi apa yang terjadi? Hamba tidak ingin mengenal Tuhan, tidak peduli dengan Allah dan agamanya bahkan melarikan diri dari Tuhan. Bagaimana bisa Allah mencintai hamba ini?

Lari ke tuhan

Kita diperintahkan untuk mengenal Tuhan dan “lari” kepada Tuhan. Allah berfirman.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Artinya: “Jadi segera lari kembali kepada Allah. Sesungguhnya, aku (Rasul) benar-benar mengingatkanmu tentang Dia.” (Surat Adz-Dzaariyaat ayat 50)

Jangan terlalu yakin bahwa kita adalah hamba favorit Tuhan

Ini bukan tentang tertipu oleh berbagai nikmat dan kenyamanan yang ditawarkan Allah di dunia ini. Kita seharusnya TIDAK HANYA bersandar pada sifat “Allah mencintai hamba-Nya”, yang membuat kita lupa dan mengabaikan bahwa Allah juga memiliki azab yang besar dan menyakitkan.

Allah berfirman.

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ، وَ أَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الأَلِيمَ

Artinya: “Katakan pada hamba-Ku bahwa Akulah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Dan sesungguhnya siksa-Ku adalah siksa yang sangat menyakitkan” (Surat Al-Hijr ayat 49-50).
Saat orang beriman mengetahui siksaan Allah

Rasulullah – damai dan doa Allah besertanya – juga menggambarkan bagaimana cinta dan siksaan Allah. Dia berkata.

لو يعلم المؤمن ما عند الله من العقوبة ما طمع بجنته أحد ولو يعلم الكافر ما عند الهم أح .ط. الن جن تما ق

Artinya, “Jika orang beriman mengetahui siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya tidak ada orang beriman yang menginginkan sorga-nya. Dan jika orang kafir mengetahui rahmat Allah, maka pasti tidak ada orang kafir yang putus asa mengharapkan sorga.” (Hadits muslim nomor 4948)

Jika seorang Muslim waspada terhadap nikmat terus-menerus dan disertai dengan keadaan ketidaktahuan kepada Allah, itu bisa menjadi istidraj (semacam jebakan). Istidraj adalah bahwa Allah memberikan dunia kepada seorang hamba, dia hanya bersenang-senang, tetapi kenyataannya Allah tidak peduli lagi padanya. Dia hanya akan menunggu jawabannya pada Hari Penghakiman dan hanya “bersenang-senang” untuk sementara waktu.

Istidraj

Ambillah Istidraj, misalnya: Seorang hamba memiliki bisnis yang lancar dan penjualan terus meningkat, tetapi dia mengabaikan shalat. Seorang wanita yang karir dan jurusannya terus berkembang, tetapi tidak mengenakan jilbab. Ini seperti seorang ibu yang memberikan perangkat kepada si kecil dan kemudian dia berkata, “Mainlah sebanyak yang kamu mau sepanjang hari”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang istidraj,

Artinya, ketika Anda melihat Allah Ta’ala memberikan hamba dari (penyebab) dunia yang Dia inginkan, meskipun dia terus tidak menaati-Nya, maka (ketahuilah) bahwa itu adalah istidraj (perangkap) dari Allah. “(HR. Ahmad, lihat Shahihul Jami No. 561)

Syekh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi menyatakan.

Syukur kepada Tuhan: Dia adalah Tuhan atas dunia, jadi dia bukanlah Tuhan dunia, tapi Tuhan langit dan bumi.

“Makar Allah adalah istidraj bagi para pelaku maksiat dengan memberikan kegembiraan / kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan haknya. Mereka tidak khawatir [dengan tenang] tentang istidraj [jatuh] kesenangan bagi mereka meskipun mereka terus-menerus tidak taat sampai murka Allah turun atas mereka dan hukuman Allah menimpa mereka. “(Al-Jadid fii Syarhi Kitabit tauhid hal. 306, Maktabah As-Sawadi)

Ini adalah ulasan singkat tentang kasih Tuhan kepada para hamba-Nya. Semoga bisa bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua. Terima kasih.

Lihat Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-arab-ringkas/